Artikel – Memaknai Pancasila

MEMAKNAI PANCASILA

Oleh : Adi Moch Priyanto

 Gambar

            Pancasila sebagai falsafah negara Indonesia memiliki arti penting sebagai dasar aktivitas negara.  Hal itu dapat diinterpretasikan sebagai syarat dan rukun, yang keduanya harus terpenuhi dan saling menyempurnakan untuk terciptanya konsistensi kemakmuran. Pancasila memiliki kajian makna yang luar biasa, dengan kelima silanya telah tersusun sebagai dasar yang menjadi ideologi dan identitas negara. Filosofi yang terkandung dalam pancasila mewakili karakterstik bangsa indonesia sebagai bangsa yang adil, makmur dan sejahtera.

            Perpaduan aspek dalam pancasila mengandung filosofi kehidupan manusia, mulai dari agama atau keyakinan, perilaku, kehidupan sosial, sistem pemerintahan dan tatanan hukum yang berjalan secara adil dan jujur. Kelima aspek tersebut merupakan batang tubuh yang beroperasi secara sistematis menuju Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera.

            Lahirnya pancasila merpakan tonggak awal adanya negara Indonesia. Pancasila yang disusun dengan sedemikian rupa dapat kita jadikan acuan dalam menjalani hidup. Karena pancasila dapat diimplementasikan sebagai miniatur kehidupan.

            Pada sila pertama yang berbicara seputar ketuhanan atau keyakinan, didalamnya terkandung bagaimana kita berhubungan dengan tuhan kita yang maha esa artinya hanya satu, tidak dua atau tiga apalagi sampai puluhan, yaitu Allah Swt. Sila pertama ini merupakan dasar kita bernegara, dasar kita menjalani kehidupan yang berdasar pada ketaatan kepada aturan dan hukum Allah Swt. Jika kita telah menjiwai sila pertama dengan mengimplementasikannya dengan beriman hanya kepada Allah Swt. maka janji Allah akan melimpahkan keberkahan yang luar biasa, seperti yang termaktub dalam QS. Al-A’raf [7] : 96, yang artinya :

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Sila kedua memiliki korelasi yang erat dengan sila pertama, yang berbicara seputar perilaku manusia yang beradab, artinya berprilaku sebagaimana periaku yang benar-benar seorang manusia. Ketika sila pertama kita jiwai, maka untuk terciptanya tatanan perilaku yang beradab akan mengikuti dengan sendirinya karena hati dan pikiran kita telah ikhlas mengikuti perintah, aturan dan hukum Allah, sebagaimana dalam hadits Nabi disebutkan hati yang baik maka baiklah segala amalnya dan apabila rusak maka rusaklah segala amalnya. Demikian erat korelasi antara keduanya ketika yang satu terpenuhi, maka yang lain pun terpenuhi.

Pada sila ketiga yang berbicara mengenai tatanan kemasyarakatan yang bersatu dan berdaulat tanpa dipenuhi tawuran, kekerasan dan permusuhan. Hal ini akan tercipta dengan sendirinya, ketika sila yang pertama dan kedua tumbuh dalam jiwanya. Karena perilaku yang beradab akan meminimalisir konflik. Persatuan ini juga merupakan syarat untuk tercapainya Indonesia yang makmur dan sejahtera. Ketika semua bangsa telah bersatu, baik dalam hal tujuan, pikiran, ataupun yang lainnya, sebagai cerminan dari semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Sila keempat yang berbicara seputar sistem pemerintahan sebagai pemimpin, pemberi teladan, penentu kebijakan, dan pengatur kenegaran. Pemimpin merupakan orang nomor satu dalam sebuah Negara. Artinya pemimpin memiliki pengaruh yang cukup besar dalam menjalankan dan membawa Negara kea rah mana. Ketika seorang pemimpin dapat memenuhi dan menjaga amanah rakyat, maka dia akan selalu berusaha untuk memberikan contoh dan perilaku untuk tercapainya keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.

Dan sila kelima yang mengakhiri podasi falsafah negara Indonesia, yang berbicara mengenai keadilan sebagai hasil dari penjiwaan keempat sila sebelumnya, dan ini merupakan puncak harapan tegaknya pancasila. Ketika keadilan tegak dalam segala bidang, maka kesejahteraan dan kemakmuran akan datang dengan sendirinya. Sila kelima ini bisa dikatakan sebagai dampak dari sila-sila sebelumnya. Dampak ini akan baik ketika yang sebelumnya baik pula, sebaliknya dampak ini akan buruk ketika sebelumnya buruk.

Menyikapi makna pancasila ini, melihat kondisi Negara Indonesia saat ini, setelah 67 tahun merdeka tetapi kemerdekaan itu tak kunjung dirasakan oleh rakyat Indonesia. Lantas apakah ada yang salah dengan pancasila sebagai pandangan hidup bangsa ? hal ini perlu untuk direnungkan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: